News

Info berita tentang lokasi-lokasi traveling dan tempat yang wajib untuk dikunjungi.

Travel Story

Berbagi cerita tentang pengalaman traveling yang sangat menarik.

Food Story

Berbagi cerita dan pengalaman tentang makanan khas yang wajib di coba jika mengunjungi tempat tertentu.

Travel Tips

Berbagi berbagai Tips sebelum melakukan traveling ke suatu tempat.

Galery

Kumpulan foto-foto indah lokasi yang wajib kita kunjungi saat traveling.

Tuesday, August 30, 2016

Agenda Wisata Kepulauan Riau Menjelang Akhir Tahun

Alif Stone Park, Salah Satu Icon Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Sisa empat bulan terakhir di 2016 bisa dimanfaatkan untuk pesiar ke Kepulauan Riau. Serangkaian agenda wisata sudah menyambut pelancong.

Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Guntur Sakti menyebutkan kegiatan paling banyak sepanjang September dan Oktober. Pada September saja ada sekitar delapan kegiatan di berbagai kabupaten/kota di Kepri.

"Di Natuna ada Festival Wisata Bahari pada 1 September 2016," ujarnya.

Sementara di Batam akan dihelat Eid Al Adha Mubarak Festival, Nongsa Festival, dan Nongsa Carnival. Semua dipusatkan di kawasan Nongsa dan resort Turi. "Ada Festival Kue Bulan juga," ujarnya.
Pulau Penjalin Anambas

Oktober akan menjadi bulan paling sibuk. Selama 10 hari terakhir Oktober akan dihelat Festival Bahari Kepri di Tanjung Pinang. Festival itu untuk memeriahkan Sail Karimata 2016. Di festival itu akan dihelat aneka olahraga tradisional, pentas seni dan budaya melayu, serta balap perahu.

Bahkan, kegiatan terkait Sail Karimata tidak hanya dibuat di Tanjung Pinang. Di Bintan dan Batam juga akan dibuatkan serangkaian acara khusus untuk memeriahkan penutupan reli perahu layar itu.

"November agak sepi, hanya ada Nongsa Cup dan Racing the Planet Bintan," ujar Guntur.

Kegiatan akan kembali ramai pada Desember. Sepanjang Desember antara lain ada Kenduri Seni Melayu di Batam, lari malam hari atau Moon Run di Bintan, sejumlah turnamen golf di Batam dan Bintan. "Tentu akan ada pesta pergantian tahun di berbagai tempat," kata Guntur.

Sunday, August 14, 2016

Waktu Yang Tepat Untuk Memanjat Via Ferrata di Gunung Parang


Via ferrata adalah sebuah teknik memanjat dengan mendaki tangga besi yang "ditanam" di sepanjang dinding tebing. Sampai saat ini, satu-satunya via ferrata di Indonesia bisa Anda temukan di Gunung Parang.

Gunung Parang yang terletak di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat terkenal sebagai lokasi rock climbing. Namun kini, tak hanya pendaki profesional yang bisa memanjat tebing gunung ini. Ada jalur via ferrata yang baru dibuka beberapa bulan lalu.

Penggagas Badega Gunung Parang, Dhani Daelami mengatakan, via ferrata aman dilakukan oleh pengunjung dari segala usia. Meski begitu, ada waktu-waktu terbaik untuk naik tangga besi di pinggir tebing ini.

"Waktu paling baik sebenarnya adalah musim kemarau. Kalau musim hujan, sebaiknya ditunda dulu karena potensi petir," tutur Dhani kepada KompasTravel di Gunung Parang, Purwakarta, beberapa hari yang lalu.

Badega Gunung Parang adalah komunitas sekaligus operator wisata yang melayani pendakian lewat via ferrata. Ada pula Skywalker, operator tur lainnya yang punya jalur via ferrata di sisi lain Gunung Parang. 

Via ferrata dapat dilakukan lewat Kampung Cihuni atau Kampung Cirangkong, Desa Pesanggrahan, Kabupaten Purwakarta. Jalur ini tersedia dalam beberapa macam ketinggian diantaranya yaitu dengan ketinggian 100 meter, 300 meter, 500 meter, dan 700 meter. Pihak Badega Gunung Parang rencananya akan menambah jalur via ferrata sampai ketinggian 900 meter, sangat dekat dengan puncak. 

"Kalau ingin mendaki, lebih baik mulai pada pagi hari. Cuaca dan matahari masih bersahabat. Pilihan lain, malam sekalian. Pakai headlamp, sensasinya berbeda," papar Dhani.

Meski hanya ketinggian 100 meter, pemandangan yang ditawarkan lewat jalur via ferrata sungguh menakjubkan. Hamparan pesawahan, rumah penduduk, Waduk Jatiluhur, Gunung Bongkok dan Gunung Lembu terlihat jelas dari pinggir tebing.

Untuk mencoba via ferrata, biaya yang dikeluarkan mulai dari Rp 65.000 per orang untuk via ferrata ketinggian 100 meter. Jika mau menguji adrenalin, Anda bisa mencoba naik sampai ketinggian 700 meter dengan harga Rp 465.000 per orang.

Monday, August 1, 2016

AirAsia Diskon Tiket Pesawat Rute Internasional Hingga 50%


Mulai hari ini, Anda yang membeli tiket pergi-pulang naik AirAsia bisa mendapatkan diskon sampai 50 persen untuk tiket kepulangan. Diskon ini berlaku untuk rute internasional antara lain Singapura, Thailand, Malaysia, Australia, dan beragam destinasi lainnya.

Potongan harga ini bisa didapat mulai 1-7 Agustus 2016, untuk periode perjalanan mulai 8 Agustus-24 November 2016.

"Melalui promo ini pelanggan AirAsia Indonesia dapat membeli tiket penerbangan pulang pergi dengan harga yang lebih hemat, dibanding membeli tiket untuk sekali jalan," tutur Direktur Niaga AirAsia Indonesia, Andy Adrian Febryanto.

Wisatawan dapat memanfaatkan promo ini untuk menghadiri beragam festival menarik. Misal Georgetown Festival di Penang, Malaysia yang akan digelar bulan ini atau Loi Krathong (Festival Lentera) di Thailand yang akan digelar pada November mendatang.

Anda juga bisa memanfaatkan promo ini dengan terbang ke Australia. Kota Perth di Australia Barat misalnya, adalah destinasi tepat menghabiskan musim semi yang jatuh antara September-November.

Promo ini tersedia untuk pembelian via situs resmi AirAsia untuk penerbangan AirAsia Indonesia (kode QZ) dan Malaysia AirAsia (AK).

Pengguna kartu kredit CIMB Niaga, AirAsia BIG dan Mandiri dapat memanfaatkan cicilan 0% hingga 12 bulan.

Sunday, July 31, 2016

Alternatif Liburan di Hutan Tengah Kota Kuala Lumpur, Malaysia


Berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia tak harus selalu berwisata dengan berbelanja. Anda dapat menikmati berbagai hiburan dalam bentuk berbeda, termasuk berjalan-jalan di hutan hujan tropis.

Tak perlu khawatir, sebab hutan tersebut terletak di lokasi yang sangat strategis, di pusat kota Kuala Lumpur tepatnya di Jalan Raja Chulan, di area Menara Kuala Lumpur.

Kuala Lumpur Forest Eco Park atau disebut pula Bukit Nanas Forest Reserve adalah satu-satunya hutan jenis hujan tropis yang tersisa di tengah kota Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan luas 9,3 hektar wisatawan dapat berkeliling KL Forest Eco Park, menikmati suasana hutan yang masih sangat alami.

"Dulu saat zaman perang Raja Abdullah dan Raja Mahadi, tempat ini ditanami banyak tumbuhan nanas sebagai pagar. Zaman dahulu prajuritnya tidak memakai alas kaki, jadi tanaman nanas yang berduri sebagai pagar penghalang. Sekarang tidak ada lagi tanaman nanasnya. Tapi masih ada di daerah dekat Menara Kuala Lumpur," cerita Awang, pemandu di KL Forest Eco Park.

Saat kunjungan kami bersama rombongan Oasia Suites Kuala Lumpur, Awang menjelaskan jika di KL Forest Eco Park masih terdapat banyak spesies flora dan fauna. "Ada 223 spesies tumbuhan di sini, 12 mamalia, dan 25 spesies burung dari 18 keluarga," kata Awang.



Di KL Forest Eco Park, pengunjung dapat berjalan di atas kanopi (jembatan gantung) dengan tinggi sekitar 5-18 meter dengan sembilan menara perhentian. Dari sana akan nampak pemandangan hutan yang hijau sekaligus pemandangan kontras, gedung-gedung tinggi di Kuala Lumpur Malaysia.

Awang menyarankan saat terbaik untuk berkunjung ke KL Forest Eco Park pada bulan Juli sampai Desember. "Karena kalau musim kemarau justru banyak pohon yang kering, jadi tak enak dilihat," kata Awang.

KL Forest Eco Park dibuka dari pukul 08.00-18.00, memiliki fasilitas surau, toilet, pusat informasi, galeri, dan tempat berkemah yang memerlukan izin dari penyelenggara sebelumnya. Tak dipungut biaya untuk memasuki KL Forest Eco Park, dengan syarat Anda perlu mengambil tiket masuk di Menara Kuala Lumpur, yang juga merupakan pintu masuk KL Forest Eco Park.



Jika ingin berkunjung ke KL Forest Eco Park, Anda dapat menaiki angkutan umum monorel sampai stasiun Raja Chulan atau Bukit Nanas dan kemudian berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju halte kendaraan shuttle gratis ke KL Tower.

Cara paling praktis adalah menginap di hotel yang dekat dengan area KL Tower. Salah satunya adalah Oasia Suites Kuala Lumpur yang berjarak hanya tiga menit berjalan kaki menuju KL Forest Eco Park.

Saturday, July 30, 2016

Menyusuri Alam Di Jalur Reptil Taman Nasional Sebangau


Hutan belantara Kalimantan adalah "rumah" bagi berbagai spesies reptil, tak kecuali ular. Salah satu tempat untuk menemukannya adalah Taman Nasional Sebangau yang terletak di Kalimantan Tengah. 

Secara administratif, TN Sebangau masuk dalam tiga wilayah yakni Kota Palangkaraya, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Pulang Pisau. Taman nasional seluas 568.700 hektar ini merupakan ekosistem rawa gambut yang terbentuk jutaan tahun lalu.

Sebelum didaulat menjadi Taman Nasional pada 2004, Sebangau merupakan hutan produksi yang dikelola beberapa HPH. Pembalakan liar pun merajalela usai berakhirnya izin HPH di kawasan tersebut.

Namun kini, meski bekas kebakaran hutan masih jelas terlihat, TN Sebangau adalah lokasi ekowisata terutama untuk melihat langsung satwa liar.

Ada sekitar 54 spesies ular yang ditemukan di taman nasional ini, selain itu juga ada 15 jenis mamalia dan 182 jenis burung. Saat mengunjungi taman nasional ini beberapa waktu lalu, kami diajak menyusuri "jalur reptil" yang berada di belakang Pos Jaga Sungai Koran.



Area Sungai Koran adalah spot terdekat untuk didatangi wisatawan. Anda tinggal menyambangi Desa Kereng Bangkirai yang letaknya sekitar 15 menit perjalanan dari Kota Palangkaraya. Dari desa tersebut, ada speedboat milik taman nasional yang bisa disewa.
Keunikan Sungai Koran terletak pada warnanya yang hitam pekat. Ini karena sungai tersebut memiliki kandungan tannin yang tinggi akibat rawa gambut di bagian dasarnya. Dari dermaga di Desa Kereng Bangkirai, perjalanan speedboat menuju Pos Jaga Sungai Koran memakan waktu sekitar 20 menit.

Sepanjang perjalanan, Anda akan melewati "labirin" rasau. Ini adalah sejenis tumbuhan pandan dengan duri tajam di bagian daun dan batangnya. Namun begitu masuk ke "jalur reptil" di belakang Pos Jaga, jumlah tumbuhan rasau semakin berkurang.

Jalur tersebut tak lebar, hanya sekitar 2-3 meter. Begitu masuk jalur ini, hawa dingin menyeruak. Ini karena pepohonan yang cukup rapat menaungi kedua sisi sungai.

"Di sini banyak ditemukan ular viper, sanca, dan ular hijau," tutur Abdullah, salah satu penjaga TN Sebangau.

Viper (Viperidae) adalah salah satu ular paling berbisa di dunia. Abdullah menjelaskan, biasanya ular tersebut bertengger di batang pohon dengan ketinggian 1-2 meter dari permukaan sungai.

"Jika masuk ke dalam (hutan), akan lebih banyak lagi ditemukan ular. Bahkan beberapa waktu lalu ada yang menemukan tarantula besar," papar dia.



"Jalur reptil" yang kami lewati cukup panjang, hingga akhirnya harus berbalik arah untuk kembali ke Pos Jaga Sungai Koran. Sayangnya, hanya satu ular yang ditemukan hari itu. Abdullah menemukan seekor sanca di pinggir sungai.

Menyusuri Sungai Koran yang berwarna hitam, di tengah belantara Kalimantan, sungguh terasa mendebarkan. Jika Anda termasuk orang bernyali tinggi, cobalah masuk ke "jalur reptil" ini pada sore hingga malam hari.

"Kemungkinan besar mereka akan keluar sore hingga malam. Banyak turis wisata minat khusus yang datang, dan pulang dengan perasaan puas," papar Abdullah.